Pidato Aqidah Akhlak Manusia


Bagaimana pidato akidah akhlak manusia? D izaman yang serba modern ini, di mana akulturasi dan asimilasi budaya tidak bisa dicegah lagi, maka kita sebagai umat islam haruslah menjadi pengendali kemajuan zaman, bukan sebaliknya malah menjadi objek kemajuan zaman. Sebagai umat Islam, penulis merasa sangat bersyukur dan bangga karena dapat menemukan berbagai macam ceramah keagamaan dengan mudah.

Berbagai media cetak dan elektronik berlomba-lomba membuat acara dakwah Islam. Hal tersebut tentunya sangat berguna bagi para pemeluk agama Islam agar senantiasa berpegang teguh terhadap ajaran agamanya. Umumnya tema-tema yang disampaikan beragam, mulai dari masalah akidah, muamalah, sosial, sedekah, dan lain-lain yang semuanya dikemas dalam bentuk yang sangat menarik.

Aqidah Akhlak Manusia

Salah satu tema yang paling penting untuk disajikan adalah pidato aqidah akhlak manusia. Mengapa penulis beranggapan demikian? Karena aqidah merupakan sesuatu yang mendasar dan dapat menjadikan seseorang menjadi baik atau buruk.

Kita tentunya masih sangat ingat, bahwa tujuan utama Allah Swt mengutus Nabi Muhammad saw kepada penduduk Mekah pada saat itu, adalah untuk merubah aqidah kaum Qures yang saat itu masih jahilyah. Kaum Quraisy pada saat itu menyembah kepada berhala yang diletakan di sekeliling kabah. Hubal, Latta, Uzza, dan Manna adalah merupakan contoh-contoh berhala yang disembah pada saat itu.

Rasulullah saw pada awalnya menyampaikan dakwah dengan cara sembunyi-sembunyi karena sesuai dengan perintah Allah Swt dalam surat As-Syu’ara hingga kemudian secara terang-terangan sesuai perintah Allah dalam surat Al-Hijr. Alhamdulillahirrabbil ‘alamin, Islam dapat menyebar hingga kini, dan kita dirahmati menjadi orang Islam semenjak lahir.

Lalu, mengapa pada masa kini  banyak ustadz yang berceramah dengan mengangkat tema aqidah akhlak manusia? Jangan salah, seiring dengan semakin majunya zaman, maka banyak manusia yang kembali ingkar kepada Allah Swt. Banyak manusia yang menjadi budak teknologi, kekayaan, dan kekuasaan sehingga melupakan dirinya sebagai makhluk pribadi yang bertanggung jawab kepada Allah Swt.

Banyak sekali manusia yang mementingkan kehidupan dunia dan melupakan kepentingan akhirat. Secara garis besarnya, tidak ada keseimbangan antara kepentingan duniawi dan ukhrowi. Oleh karena itu, para ustadz memandang perlu untuk senantiasa mengingatkan sesamanya agar selamat di dunia dan di akhirat.

Dengan demikian jebakan masa jahiliyah modern dapat dihindari oleh seluruh umat Islam. Amin.

Selanjutnya : Mengenal Asal Usul Suku Mori dan Keadaannya
Sebelumnya: Memahami Asal Usul Bahasa Jawa
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar