Puisi Karangan Sastrawan Terkenal Tema Keluarga


Puisi karangan sastrawan terkenal tema keluarga yang hingga kini masih terasa mengena, Sajak Potret Keluarga. Puisi tersebut dibuat oleh WS. Rendra. Sebuah puisi yang bertanggal 10 Juli 1975 itu memberikan gambaran tentang sebuah rumah dan orang-orang yang ada di dalamnya.

Kisah dalam Sajak WS. Rendra Tentang Keluarga

Inilah kisah dalam Puisi karangan sastrawan terkenal tema keluarga. WR. Rendra mengisahkan sebuah keluarga yang tidak harmonis. Istri yang penurut tapi stres, suami yang ternyata tukang korupsi, dan anak yang idealis.

Anak merasa bahwa ayahnya tidak memiliki ‘posisi’ yang tinggi di matanya. Ia merasa ayahnya tidak melakukan apa-apa untuk orang lain. Ayahnya bermewah-mewahan dan bangga dengan semua hartanya.

Tapi ternyata harta itu didapat dari ‘mencuri’ uang rakyat. Puisi ini terasa masih cukup tepat menggambarkan kondisi banyak keluarga di Indonesia. Pada tahun 70-an itu pun korupsi sangat merajarela.

Banyak pejabat yang gelap mata dengan uang yang berlimpah yang didapatkan dari utang luar negeri. Bangsa ini baru saja dibangun dan dikembangkan. Para pejabat banyak yang menyalahgunakan jabatannya. WR. Rendra menangkap fenomena itu  dan membuatnya menjadi sebuah puisi yang cantik.

Tutur WS. Rendra

Gambaran keluarga yang seharusnya bersyukur dengan keadaan. Tapi ketidakmampuan berpikir secara sederhana telah membuat keluarga menjadi bernafsu menggapai dunia.  Tapi semuanya dibiayai dari utang. Bahkan biaya sekolah pun ternyata sering terlambat. Padahal semuanya tampak  tidak ada masalah.

Keluarga utuh tapi tidak ada kebahagiaan karena kepala keluarga tidak mempunyai kemampuan memimpin keluarganya. Orang tampak berkelas tapi nyatanya apa yang mereka lakukan benar-benar tidak bermartabat.

Tidak ada yang bisa dihormati dari apa yang mereka lakukan. Semua itu karena ternyata apa yang dimiliki berasal dari uang tidak halal.
Puisi Dari Taufik Ismail

Taufik Ismail menjadi salah satu penyair yang cukup mumpuni saat ini. Puisinya mampu menggetarkan hati orang yang mendengarnya. Di antara puisinya yang menggunakan simbol keluarga adalah Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu.

Puisi itu berkisah tentang apa yang terjadi pada tahun 1998. Keadaan negara ini genting. Tuntutan perubahan telah membuat banyak orang lupa. Konflik menyebabkan darah tumpah. Taufik Ismail menggambarkan semua itu dengan lugas.

Puisi lain yang menggunakan simbol keluarga. Puisi berjudul Dari Ibu Seorang Demonstran pun menggambarkan hubungan antara ibu dan anak-anak yang turut dalam demonstrasi menentang pemerintah.

Puisi karangan sastrawan terkenal tema keluarga itu juga berkisah tentang cara pemerintah mengatasi demontrasi pada masa sebelum reformasi lahir.

Selanjutnya : Lagu-lagu Rock Jamrud yang Dikenang Sepanjang Masa
Sebelumnya: Tips Menjalin Hubungan Cinta yang Langgeng
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar