Sejarah Gunung Slamet


Sejarah Gunung Slamet bermula pada abad ke-19. Gunung ini terbentuk sebagai hasil subuksi atau penunjaman lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Tercatat, Gunung Slamet merupakan gunung aktif dan sering mengalami erupsi skala kecil. Terakhir kali meletus pada tahun 1999 dan erupsi Mei 2009 yang lalu.

Gunung Slamet

Gunung berapi di Jawa ini terletak di perbatasan antara Kabupaten Brebes, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Tegal, Pemalang, dan Provinsi Jawa Tengah. Ketinggiannya mencapai 3.428 meter di atas permukaan laut sehingga menjadi gunung paling tinggi di Provinsi Jawa Tengah dan tertinggi kedua di Jawa.

Asal nama “Slamet” menurut sejarawan Belanda, J.Noorduyn berasal dari kata pinjaman dari bahasa Arab. Nama aslinya yang masuk ke dalam naskah petualangan Bujangga Manik berbahasa Sunda adalah Gunung Agung. Disebabkan perpaduan dengan budaya Jawa, nama Agung diartikan pula sebagai Slamet. Bahkan gunung ini juga memiliki sebutan lain seperti gunung Lanang.

Gunung Slamet memiliki 3 jalur pendakian, yaitu Bambangan, Guci, dan Baturraden. Hampir seluruh kawasan pendakian ditutupi oleh hutan tebal. Selain itu, ketersediaan air yang kurang juga menyulitkan para pendaki.

Jalur Bambangan dimulai dari desa di lereng gunung Slamet yaitu desa Bambangan. Dari desa, pendaki akan menuju pos 1 melewati perkebunan sayur. Daerah perkebunan dapat dilalui dengan berjalan kaki atau memilih menggunakan motor.

Setelah sampai di pesanggrahan Perum Perhutani Serang, pendaki harus melanjutkannya dengan berjalan kaki. Guna menghindari panas matahari maka pendaki biasanya memilih untuk memulai pendakian pada sore hari.

Pada jalur pendakian Guci maka pendaki memulai di lokasi bumi perkemahan Guci. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke pos V. Sewaktu perjalanan menggunakan jalur ini, pendaki akan disuguhi pemandangan kawasan cemara dan pinus.

Pada jalur Baturraden dimulai pada objek wisata Baturraden. Trek pada jalur ini terkategori masih alami. Banyak cerita para pendaki tersesat pada jalur pendakian Baturraden.

Biasanya karena masalah cuaca, kabut tebal, hujan es, dan kehilangan arah. Alhasil, jalur pendakian yang disarankan adalah Bambangan. Sedangkan Baturraden dan Guci sudah ditutup. Demikianlah sejarah Gunung Slamet. Semoga dapat bermanfaat.

Selanjutnya : Apakah Khadijah Istri Rosul Seorang Janda?
Sebelumnya: Cara Browsing yang Efektif dan Efisien
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar