Sejarah Pembukuan Hadits


Sejarah pembukuan hadits terbentuk dari keprihatinan banyaknya para penghapal hadits yang meninggal selain para penghapal yang terpencar-pencar diberbagai negeri Islam.

Keadaan itu mengundang kegelisahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang terkenal wara’ dan mencintai hadits Rasulullah saw. Secara resmi, penulisan hadits berlangsung pada abad ke 2 Hijriah.

Sebenarnya, usaha-usaha penulisan hadits telah berlangsung pada masa Abdul Aziz ayah dari Umar ketika menjabat sebagai gubernur Mesir. Namun hanya saja usaha itu masih terbatas.

Sebagai Khalifah, Umar bin Abdul Aziz memiliki otoritas yang lebih luas dalam usaha pengumpulan hadits Rasul. Ia segera memerintahkan Abu Bakar bin Muhammad, Gubernur Madinah untuk mengumpulkannya dari penghapal hadits.

Di samping itu, sang Khalifah memerintah ulama besar hadits Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (wafat 124 H) untuk menghimpun hadis. Az-Zuhri adalah ulama besar yang berhasil mengumpulkan hadits yang dikuasai ulama-ulama Hijaz dan Suriah. Tercatat abad  ke-2 Hijriah adalah abad pengumpulan hadits yang berlangsung secara besar-besaran.

Seluruh ulama diberbagai negeri Islam berkontribusi atas usaha penyelamatan sabda Rasulullah, menulis dan mengumpulkannya agar tidak hilang bersama para penghapal hadits.

Di kota Makkah, usaha pengumpulan hadits yang paling getol dilakukan oleh ulama Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij. Sementara di Madinah dilakukan oleh Malik bin Anas (Imam Malik).

Begitu pula di negeri-negeri Islam lainnya seperti Yaman, Basrrah, Kufah, Suriah, Khurasan, Ray dan Mesir. Usaha penulisan hadits tersebut membuahkan salinan hadits yang beragam.

Dan memasuki abad ke-3 H, para ulama mulai memilah antara hadits-hadits shahih dan mengkelompokkannya ke dalam berbagai topik. Abad 3 H ini disebut dengan era tadwin, era pembukuan hadits.

Ulama terkenal pada masa ini adalah Imam Bukhari, Imam Muslim , Imam Abu Dawud,Imam at-Tirmizi,  Imam An-Nasai,  dan Ibnu Majah. Karya-karya mereka merupakan karya induk hadits yang dikenal dengan al-Kutub as-Sittah (kitab enam hadits).

Adapun masa-masa selanjutnya, para ulama meniliti kitab-kitab kumpulan hadits yang ada lalu menjelaskan (syarah), dan meringkasnya.

Sejarah pembukuan hadits adalah sejarah yang memperlihatkan kecintaan umat Islam terhadap sabda Rasulullah saw begitu besar. Karena bagaimana tidak, hadits merupakan sumber kedua dalam Islam setelah Alquran.

Selanjutnya : Kebutuhan Kalsium Perhari untuk Ibu Hamil
Sebelumnya: Macam-macam Benda Modern di Bidang Komunikasi
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar