Sejarah Perkembangan Filsafat di Indonesia


Sejarah perkembangan filsafat di Indonesia dimulai sejak negara ini memasuki peradaban neolitikum atau zaman batu baru, sekitar 3500-2500 SM silam. Saat itu, pembahasan filsafat Indonesia masih seputar kehidupan tradisional para nenek moyang terdahulu, termasuk tentang ajaran adat-istiadat yang mengandung falsafah-falsafah mereka sendiri.

Barulah sekitar tahun 1967, filsafat Indonesia menjadi ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh masyarakat Indonesia. Bermula dari tulisan yang ditulis oleh seorang guru besar bernama M. Nasroen yang berisi tentang falsafah Indonesia, maka mulai sejak itu pendalaman teori ini semakin sering dilakukan. Dalam tulisan M. Nasroen, disebutkan bahwa bangsa Indonesia terdiri atas beragam kebudayaan yang berasal dari banyaknya suku budaya di negeri ini. Tiap-tiap kebudayaan tersebut tentunya memiliki falsafah masing-masing pula.

M. Nasroen juga mengatakan bahwa filsafat Indonesia berdasarkan pada falsafah negara Indonesia itu sendiri, yaitu Pancasila. Pancasila dijadikan pandangan hidup berbangsa dan bertanah air yang menyatukan keanekaragaman seluruh falsafah kebudayaan yang ada di Indonesia ini.

Seiring berjalannya waktu, pendapat M. Nasroen dalam tulisannya tersebut mendapat dukungan dari gagasan orang-orang yang memiliki pandangan yang sama dengannya. Seperti yang dikatakan oleh Sidi Gazalba dalam bukunya yang berjudul Sistematika Filsafat, bahwa kehidupan bangsa Indonesia bermula dari kehidupan para nenek moyang, mengakar, dan berlaku secara turun-temurun, tanpa terputus. Jadi, pandangan hidup atau falsafah yang dianut para nenek moyang tersebut dilestarikan secara terus-menerus kepada generasi selanjutnya. Itu sebabnya, mengapa Indonesia telah mengenal filsafat sejak beribu-ribu tahun yang silam.

Filsafat ketimuran yang berlaku di Inonesia selalu identik dengan  kebudayaan daerah, terutama kebudayaan Jawa. Kebudayaan Jawa dianggap sebagai kebudayaan yang berperan dalam pelestarian nilai-nilai luhur. Istilah “bhineka tunggal ika”, “gemah ripah loh jinawi”, “tut wuri handayani” adalah istilah-istilah yang diadaptasi dari bahasa Sansekerta dari tanah Jawa. Tidak hanya itu, filsafat ketimuran terkadang disampaikan tersirat dalam bentuk pertunjukan seperti wayang petruk, cerita rakyat, dan lain sebagainya.

Demikianlah sekilas sejarah perkembangan filsafat di Indonesia. Sampai detik ini, apa yang telah berlaku pada zaman dulu masih tetap berkembang hingga saat ini, meskipun terkadang nilai-nilai tersebut mulai luntur termakan waktu.

Selanjutnya : Bentuk-bentuk Penyimpangan Sosial yang Ada di Lingkungan Sekitar
Sebelumnya: Status Anak dari Perkawinan Beda Negara
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar