Sejarah Suku Dayak Ngaju


 

Bagaimana sejarah suku Dayak Ngaju?

Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan. Pemberian nama Dayak adalah berasal dari penyebutan penduduk pesisir Borneo terhadap penduduk di daerah pedalaman pulau Borneo (meliputi Brunei, Sabah, Sarawak, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah).

Suku Dayak yang menghindari dampak arus migrasi para pendatang dan memilih mempertahankan adat budaya aslinya memilih tetap tinggal di pedalaman sehingga menjadi terpencar dan menjadi sub etnis tersendiri.

Menurut penelitian antropolog J.U Lontaan di tahun 1975 selain enam suku besar, pulau Kalimantan juga terdiri dari sejumlah 405 sub etnis Dayak dengan adat kebudayaan yang mirip satu sama lain.

Pada sensus tahun 2000 diputuskan bahwa Suku Dayak Ngaju merupakan suku baru yang mengisi 18,02% dari populasi penduduk Kalimantan Tengah, dalam pendataan penduduk sebelumnya suku Ngaju termasuk bagian dari suku Dayak.

Sejarah Dayak Ngaju diturunkan dari mulut ke mulut. Menurut kisah sejarah turun temurun Dayak Ngaju, istri raja Banjar pertama yang bernama Biang Lawai adalah putri Dayak Ngaju.

Sedangkan Noorhayati, istri kedua raja banjar adalah putri Banjar. Sehingga suku Dayak Ngaju beranggapan wanita suku Dayak Ngaju lah yang berperan dalam keturunan raja-raja Banjar.

Hikayat Banjar sendiri mencatat bahwa salah satu istri Sultan Hidayatullah, raja Banjar ketiga adalah puteri Khatib Banun, seorang tokoh Dayak Ngaju.

Bahasa daerah suku dayak Ngaju adalah bahasa Austronesia seperti yang biasa digunakan suku-suku Dayak lain di Kalimantan Tengah hanya terdapat sedikit perbedaan pada dialek atau pilihan kata tertentu meski artinya tetap sama.

Sistem religi yang dianut Suku Dayak Ngaju pada umumya merupakan aliran kepercayaan adanya Zat Maha Esa yang menciptakan dan menguasai alam semesta raya.

Sebagian masyarakat Dayak Ngaju ada yang masih memeluk agama Helu atau Kaharingan. Sistem religi ini berkaitan dengan beberapa upacara keagamaan yang menjadi bagian dari adat istiadat Dayak Ngaju, salah satunya upacara Tiwah.

Yakni upacara mengantarkan tulang orang yang sudah meninggal ke rumah kecil khusus jenazah yang disebut Sandung. Prosesi pernikahan yang meliputi Hakumbang Auh (peminangan), Hisek (penentuan tanggal pernikahan beserta persyaratannya), Hasaki Hapalas (pengukuhan pernikahan menurut tata cara adat). Demikian sekilas tentang sejarah suku Dayak Ngaju.

Selanjutnya : SnowBay - Permainan Air di Taman Mini Indonesia Indah
Sebelumnya: Mencari Koran Analisa Hari Ini
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar