Mengenal Siapa Saja yang Menyusui Nabi Muhammad


Sebagai muslim, mempelajari sejarah Nabi Muhammad saw merupakan suatu keharusan. Pasalnya, Nabi Muhammad saw adalah suri tauladan bagi umat muslim. Mempelajari sejarahnya, tidak hanya dimulai saat Nabi Muhammad saw dinobatkan sebagai Rasul Allah.

Tapi pelajarilah dari mulai sebelum kelahirannya, hingga akhir hayatnya. Salah satu kisah yang dimuat di dalam sejarah kelahiran Nabi Muhammad adalah tentang siapa saja yang menyusui Nabi Muhammad.

Siapa Saja Ibu Susu Nabi?

Nabi Muhammad saw tidaklah disusui oleh ibunya sendiri. Ia disusui oleh dua orang ibu susu, yaitu, Tsuwaibah dan Halimah binti Dzuiab as-Sa’diyah. Di dalam buku “Nurul Yaqin” yang ditulis oleh Syeikh Muhammad Al-Khudri Bek, disebutkan bahwa Tsuwaibah adalah seorang hamba sahaya perempuan milik pamannya, Abu Lahab.

Saat kecil, Abu Lahab sangat sayang kepada Muhammad bin Abdullah. Meski sebelumnya, Muhammad kecil saat masih bayinya diasuh oleh Ummu Ayman yang memiliki nama asli Barakah Al-Habsysiyyah.

Kenapa Harus Diasuh Halimah yang Seorang Wanita Pedesaan?

Sudah menjadi tradisi orang-orang pada saat itu, mereka selalu mencari wanita-wanita yang mau menyusui anak-anak mereka di daerah pedalaman.

Tujuannya, agar anak-anak mereka kelak tumbuh menjadi orang yang mulia. Mereka berpandangan bahwa wanita yang tinggal di kota pemalas dan kurang telaten mengurus anak.

Lalu datanglah Halimah binti Dzuaib as-Sa’diyah yang sedang mencari anak-anak yang ingin disusuinya. Nama suaminya adalah Abu Kabsyah.  Nama inilah yang dikemudian hari dipakai oleh orang-orang Quraiys kala mengejek Nabi Muhammad saw.

Mereka mengatakan “Orang ini adalah anak Abu Kabsyah yang menyampaikan wahyu dari langit”. Namun Nabi Muhammad saw tidak pernah mempedulikannya.

Ada satu hal yang mengejutkan, ketika Muhammad bin Abdullah kecil diasuh oleh Halimah, karena selalu ada keberkahan di desa tersebut. Desa itu makmur dan tumbuh-tumbuhan yang ada di daerah tersebut subur.

Selama empat tahun Muhammad bin Abdullah kecil tinggal di daerah tersebut. Empat tahun pula masyarakat desa tersebut hidup dalam kondisi sejahtera.

Menjadi pelajaran bagi kita, bahwa mengasuh anak di desa ternyata lebih baik daripada mengasuh anak di kota. Apalagi, jika kita mengasuhkan anak atau bahkan sampai menyusukannya kepada orang lain, maka pilihlah daerah pedesaan. Inilah yang bisa dipelajari dari siapa saja yang menyusui Nabi Muhammad saw.

Selanjutnya : Larik Puisi tentang Persahabatan Maknanya: Puisi Sufistik
Sebelumnya: Mengenal dan Mengatasi Trouble Sutting pada PC
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar