Siapakah Pimpinan Belanda di Perundingan Renviile?


Perjanjian Renviile merupakan suatu bentuk kesepakatan yang dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu Indonesia dan Belanda. Nama perjanjian Renviile diambil karena tempat penandatanganannya dilakukan di dalam sebuah kapal perang AS yang merupakan kawasan non-Blok USS Renviile yang saat itu berlabuh di Tanjung Priok. Sebelum membahas siapa pimpinan Belanda di perundingan Renviile, terlebih dahulu dibahas tentang latar belakang perjanjian Renviile.

Salah satu alasan mengapa perjanjian ini harus dilakukan adalah karena konflik peperangan antara Indonesia dan Belanda yang semakin memanas. Oleh karena itu, dilakukanlah perjanjian Renviile setelah sebelumnya, yaitu tanggal 17-08-1947, kedua belah pihak sepakat untuk tidak saling baku tembak lagi. Meskipun demikian, baku tembak masih tetap terjadi di antara dua pihak, terutama para pejuang non TNI.

Perjanjian Renviile tidak hanya melibatkan Indonesia dan Belanda saja, tapi perjanjian ini disaksikan oleh tiga negara non blok, yaitu Amerika, Australia, dan Belgia atau yang dikenal dengan Komisi Tiga Negara, Committee of Good Offices for Indonesia.

Perjanjian yang  dilakukan tepatnya tanggal 17 Januari 1948 ini diwakili oleh para utusan dari masing-masing negara. Perdana Menteri Amir Syarifuddin Harahap adalah sebagai pimpinan dari wakil utusan Indonesia, KNIL R. Abduk Kadir Wijoyoatmojo sebagai wakil utusan dari Kerajaan Belanda, serta Frank Porter Graham sebagai wakil utusan dari AS. Perjanjian Renviile membuahkan beberapa butir yang telah disepakati  bersama, yaitu sebagai berikut.

-    Daerah kekuasaan Indonesia yang diakui Belanda hanya meliputi Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera.
-    Kawasan Indonesia dan Kawasan Belanda dibatasi oleh garis demarkasi.
-    Kawasan Jawa Barat serta Yogyakarta, Jawa Timur Indonesia harus dikosongkan dari TNI

Perjanjian Renviile memberi pengaruh terhadap daerah-daerah kekuasaan Indonesia yang diduduki oleh TNI. Beberapa kawasan kekuasaan Indonesia harus bersih dari TNI. Di antaranya  TNI Divisi Siliwangi terpaksa harus berpindah tempat ke Jawa Tengah.

Hasil Perjanjian Renviile membuat sebagian pihak beranggapan bahwa Indonesia telah takluk ke tangan Belanda. Keadaan ini tidak bisa diterima oleh para pejuang Barisan Bambu Runcing dan Laskar Hizbullah yang dikomandoi oleh SS Kartosuwiryo. Mereka makin gencar baku tembak melawan Belanda.

Sampai-sampai, sebagai bentuk rasa kekecewaannya, 7 Agustus 1949, ia mengibarkan bendera NII (Negara Islam Indonesia). Demikianlah akhir  cerita mengenai pimpinan Belanda di perundingan Renviile ini. Semoga ada manfaatya bagi pembaca.

Selanjutnya : Masa Perkembangan Janin
Sebelumnya: Cara Menghindari Kekerasan Terhadap TKI
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar