Sinopsis Tragedi Poso Berdarah


Poso, mendengar namanya mengingatkan kita pada tragedi berdarah yang menodai nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan persatuan bangsa Indonesia.

Tragedi kemanusiaan di Poso ini menjadi pembelajaran kita untuk tidak terulang. Berikut adalah sinopsis tragedi Poso berdarah yang diperoleh dari sumber berita media cetak maupun elektronik.

Tragedi Poso berdarah terjadi dua kali, yaitu pada Desember 1998 dan Mei 2000. Tragedi kemanusiaan ini dipicu oleh isu yang mengatasnamakan agama. Seperti kita ketahui, di Poso terdapat dua kelompok besar agama, yaitu Islam dan Kristen. Kedua kelompok pemeluk agama ini sebelumnya hidup berdampingan dengan damai.

Situasi sosial dan politik masyarakat Indonesia pada tahun 1998 memang sedang dalam kondisi krisis multidimensi. Masyarakat yang sedang mengalami krisis begitu mudah terprovokasi, terutama setelah kejadian kerusuhan Mei 1998 di Jakarta yang memicu kerusuhan di daerah lain.

Tahun 1998 memang menjadi tahun kelam bagi nilai toleransi dan persatuan bangsa Indonesia. Begitu mudahnya masyarakat terprovokasi oleh isu agama dan etnis. Pada tragedi Poso I (Desember 1998) pertikaian dua kelompok agama dipicu oleh kelompok pemuda yang sedang mabuk, kemudian diminta meninggalkan wilayah yang saat itu sedang ada kegiatan ibadah Ramadhan.

Setelah meninggalkan wilayah tersebut pemuda yang sedang mabuk melakukan pembacokan kepada seseorang beragama Islam. Setelah kejadian pembacokan tersebut massa dari kedua pihak yang mewakili kedua agama saling menyerang yang mengakibatkan ratusan orang luka serta kendaraan dan rumah-rumah yang terbakar.

Selanjutnya tragedi Poso II Mei 2000, dua kelompok yang mengatasnamakan agama kembali saling serang yang dipicu oleh pertengkaran dua pemuda mabuk yang terjadi di wilayah desa dua agama tersebut. Ratusan orang meninggal dunia dari pertikaian yang dipicu oleh pemuda yang mabuk.

Hal ini tentu membuat hati kita semua merasa miris, meskipun disebutkan ada pemicu lain seperti perebutan jabatan bupati dan kepentingan kelompok tertentu. Namun, apapun pemicunya, tragedi berdarah ini tidak seharusnya terjadi di tengah bangsa yang menjunjung toleransi antarumat beragama ini.

Selanjutnya perjanjian damai Malino pun disepakati kedua kelompok agama untuk membangun kembali perdamaian di Poso. Pelaku provokasi pun telah diadili. Demikian sinopsis tragedi Poso yang memilukan ini, semoga tragedi kemanusiaan seperti ini tidak pernah terjadi lagi di Indonesia.

Selanjutnya : Surat Permohonan Bantuan Dana Sekolah
Sebelumnya: Sikap Badan Saat di Garis Finish
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar