Suku Bangsa Buru Provinsi Maluku


Mereka menamakan dirinya sebagai Gebfuka atau Gebemliar yang berarti orang dunia atau orang tanah. Pengklaiman nama ini benar adanya, setidaknya dengan tiga alasan.

Pertama, Suku Buru adalah suku asli pribumi yang mendiami Pulau Buru, pulau kedua terbesar di Provinsi Maluku setelah Pulau Seram.

Kedua, mereka sangat dekat dengan tanah dalam arti bahwa mata pencaharian penduduk suku Buru adalah bertani dan berladang.

Ketiga, mereka adalah pemburu ulung dengan menggunakan senjata tradisionalnya berupa parang lurus dan tombak pendek. Suku bangsa Buru provinsi Maluku adalah suku bangsa tipikal dari suku bangsa yang sangat mengandalkan pengolahan lahan bumi sebagai sumber kehidupannya.

Bahasa Suku Buru

Dalam kehidupan kesehariannya, penduduk suku Buru berkomunikasi dengan bahasanya sendiri, bahasa Buru. Selain dengan menggunakan bahasa Buru, mereka juga menggunakan bahasa Melayu Ambon, tetapi tetap dengan logat kental khas Buru. Kalau boleh disamakan, cara komunikasi orang Buru sama dengan cara komunikasi suku-suku bangsa lain di Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia dalam berbicara. Walaupun menggunakan bahasa Indonesia, namun logat bahasa asli masih nampak terselip dalam tutur katanya sehingga kita bisa dengan mudah menebak asal suku bangsanya tersebut, minimal provinsi  tempat tinggalnya.

Agama Suku Buru

Ada yang unik dari sistem kepercayaan atau agama yang dianut oleh penduduk suku Buru ini. Sebagai suku bangsa yang sudah terbentuk sejak lama, penduduk Suku Buru masih mempertahankan agama kepercayaan tradisional kepada benda-benda dan roh-roh (animisme dan dinamisme) dan penganutnya tersebar di seluruh Pulau Buru.

Akan tetapi, Pulau Buru seperti dibelah dua oleh dua penganut agama yang berbeda. Di bagian selatan Pulau Buru, sebagian besar penduduknya menganut agama Islam sedangkan di bagian utara, penduduknya banyak menganut agama Kristen Protestan. Di bagian tengah Pulau Buru, penduduknya mengaku melakukan pemujaan terhadap dewa tertingginya, Opo Hebe Snulat dan utusan-Nya, Nabiat.

Ketika Anda memiliki teman atau kerabat memiliki nama marga Lesnussa, Latbual, Nurlatu, Lehalima, Wael dan Sigmarlatu maka dapat dipastikan bahwa teman atau kerabat Anda tersebut merupakan keturunan asli Suku Buru. Karena nama-nama marga ini sangat khas dan menjadi identitas keturunan dari Suku Buru sendiri.

Rumah panggung yang terbuat dari bambu dengan atap alang-alang atau daun kelapa menjadi ciri khas rumah tradisional suku bangsa Buru Provinsi Maluku. Di rumah tradisional ini pula, penduduk Suku Buru melakukan proses penyulingan kayu putih dengan cara sederhana, masih menggunakan kayu bakar.

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

Judul                          :      Suku Bangsa Buru Provinsi Maluku

Kata Kunci Utama     :      Suku Bangsa Buru Provinsi Maluku

Meta Tag                    :      Gebfuka atau gebemliar, Melayu Ambon, Opo Hebe Snulat, Nama Marga, Kayu Putih, Suku Buru, Pulau Seram

 

Mereka menamakan dirinya sebagai Gebfuka atau Gebemliar yang berarti orang dunia atau orang tanah. Pengklaiman nama ini benar adanya, setidaknya dengan tiga alasan. Pertama, Suku Buru adalah suku asli pribumi yang mendiami Pulau Buru, pulau kedua terbesar di Provinsi Maluku setelah Pulau Seram. Kedua, mereka sangat dekat dengan tanah dalam arti bahwa mata pencaharian penduduk suku Buru adalah bertani dan berladang. Ketiga, mereka adalah pemburu ulung dengan menggunakan senjata tradisionalnya berupa parang lurus dan tombak pendek. Suku bangsa Buru provinsi Maluku adalah suku bangsa tipikal dari suku bangsa yang sangat mengandalkan pengolahan lahan bumi sebagai sumber kehidupannya. 

Dalam kehidupan kesehariannya, penduduk suku Buru berkomunikasi dengan bahasanya sendiri, bahasa Buru. Selain dengan menggunakan bahasa Buru, mereka juga menggunakan bahasa Melayu Ambon, tetapi tetap dengan logat kental khas Buru. Kalau boleh disamakan, cara komunikasi orang Buru sama dengan cara komunikasi suku-suku bangsa lain di Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia dalam berbicara. Walaupun menggunakan bahasa Indonesia, namun logat bahasa asli masih nampak terselip dalam tutur katanya sehingga kita bisa dengan mudah menebak asal suku bangsanya tersebut, minimal provinsi  tempat tinggalnya.

Ada yang unik dari sistem kepercayaan atau agama yang dianut oleh penduduk suku Buru ini. Sebagai suku bangsa yang sudah terbentuk sejak lama, penduduk Suku Buru masih mempertahankan agama kepercayaan tradisional kepada benda-benda dan roh-roh (animisme dan dinamisme) dan penganutnya tersebar di seluruh Pulau Buru.

Akan tetapi, Pulau Buru seperti dibelah dua oleh dua penganut agama yang berbeda. Di bagian selatan Pulau Buru, sebagian besar penduduknya menganut agama Islam sedangkan di bagian utara, penduduknya banyak menganut agama Kristen Protestan. Di bagian tengah Pulau Buru, penduduknya mengaku melakukan pemujaan terhadap dewa tertingginya, Opo Hebe Snulat dan utusan-Nya, Nabiat.

Ketika Anda memiliki teman atau kerabat memiliki nama marga Lesnussa, Latbual, Nurlatu, Lehalima, Wael dan Sigmarlatu maka dapat dipastikan bahwa teman atau kerabat Anda tersebut merupakan keturunan asli Suku Buru. Karena nama-nama marga ini sangat khas dan menjadi identitas keturunan dari Suku Buru sendiri.

Rumah panggung yang terbuat dari bambu dengan atap alang-alang atau daun kelapa menjadi ciri khas rumah tradisional suku bangsa Buru Provinsi Maluku. Di rumah tradisional ini pula, penduduk Suku Buru melakukan proses penyulingan kayu putih dengan cara sederhana, masih menggunakan kayu bakar.

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”@Arial Unicode MS”,”sans-serif”;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;}

Selanjutnya : Contoh Evolusi pada Tumbuhan
Sebelumnya: Dampak Isu-Isu Politik Terhadap Kesejahteraan Rakyat
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar