Slamet Suradio, Saksi Hidup Masinis Tabrakan Kereta Api di Bintaro 1987


Sebuah kejadian yang sangat mengejutkan terjadi pada Senin pagi, 19 Oktober 1987. Telah terjadi tabrakan dua buah kereta api dengan jumlah korban sebanyak 153 orang tewas dan 300 orang luka-luka. Slamet Suradio adalah masinis pada KA 225 untuk jurusan Rangkasbitung-Jakarta yang bertabrakan dengan KA 220 Patas jurusan Tanah Abang – Merak dengan juru mudi Amung Sunarya. Tabrakan ini terjadi di dekat stasiun Sudimara, Bintaro. Peristiwa tabrakan kereta api di Bintaro menjadi sebuah catatan kelam dunia perkeretaapian Indonesia setelah sebelumnya pada 1968 juga terjadi kecelakaan kereta api yang menewaskan 116 orang.

Tabrakan kereta api di Bintaro terjadi karena murni kesalahan manusia, yaitu kesalahan Kepala Stasiun Serpong yang tidak berkomunikasi dengan kepala stasiun Sudimara untuk mengecek jalur kereta api di Sudimara.

Slamet Suradio dan Tragedi Bintaro

Pada usia lanjutnya, 72 tahun, beliau masih sangat mengingat detik-detik berlangsungnya tabrakan yang menewaskan ratusan orang tersebut.

Menurut beliau, tragedi Bintaro terjadi pada hari Senin Pon, pukul 07.30, 19 Oktober 1987. Saat itu, beliau sedang mengemudikan lokomotif di KA 225 jurusan Rangkasbitung-Jakarta. Kejadiannya berlangsung sangat cepat sehingga dia hanya bisa membuyikan klakson kereta dan mencoba mengerem dengan sekuat tenaga. Saking kuatnya tabrakan tersebut, beliau sampai terlempar ke belakang kursi masinis. Beliau baru siuman dari pingsan di Icu Rumah Sakit Keramat Djati  dengan kondisi kaki kanan patah, kulit pinggul sobek, dan gigi-giginya rontok karena terbentuk handle rem.

Menurut pengakuan Mbah Slamet, saat itu kereta yang dikemudikannya berjalan dengan kecepatan 40 km/jam dan melihat sinyal aman ketika mau memasuki halte Pondok Bitung. Tetapi, pada saat bersamaan, muncul KA 220 Patas jurusan Tanah Abang-Merak dan terjadilah tabrakan.

Mbah Slamet, Riwayatmu Kini!

Bagi Mbah Slemet, tragedi tabrakan tersebut menyisakan luka yang sangat mendalam karena pria ini langsung ditetapkan sebagai tersangka dan mendekam di penjara selama 5 tahun dan dipecat dengan tidak hormat serta kehilangan hak pensiunnya.

Saat ini, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Mbah Slamet menjajakan rokok keliling di dekat BRI Cabang Kutoarjo dan pool PO Sumber Alam sambil berjalan tertatih-tatih.

Untuk mengenangnya, tabrakan kereta api di Bintaro diangkat ke layar lebar dengan judul “Tragedi Bintaro.”

Selanjutnya : Perbedaan Jetpump dengan Pompa Air Biasa
Sebelumnya: Peninggalan Kerajaan Islam di Jawa Yang Masih Berdiri
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar