Tokoh HAM Indonesia

Anda tentu pernah menyaksikan siaran televisi atau bahkan menyaksikan langsung konflik di tempat kejadian, terlihat ada seseorang yang dikejar-kejar, lalu dipukul oleh orang lain. Apa yang Anda rasakan jika hal tersebut menimpa diri Anda? Tentu rasa yang tidak nyaman. Itulah gambaran salah satu pelanggaran hak asasi manusia. Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) banyak di perjuangkan oleh para tokoh HAM Indonesia.

Manusia memiliki hak untuk merasa aman dan hak hidup. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya. Manusia telah dianugerahi Tuhan untuk bisa berusaha dan mengolah segala kemampuannya. Oleh karena itu, manusia memiliki hak istimewa yang disebut hak asasi atau hak dasar yang dimiliki oleh manusia sejak lahir dan merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Munir Said Thalib

Salah satu tokoh HAM Indonesia adalah Munir Said Thalib atau yang lebih dikenal dengan panggilan Munir. Beliau merupakan tokoh pejuang HAM yang lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 dan meninggal pada 7 September 2004.

Kematiannya hingga kini masih menjadi kasus yang belum terurai. Munir meninggal di pesawat Garuda Jakarta – Amsterdam yang transit di Singapura. Munir meninggal karena racun arsenik “yang tanpa sengaja” dikonsumsinya dalam perjalanan menuju Belanda untuk melanjutkan pendidikan masternya di bidang hukum.

Pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini adalah seorang pejuang HAM dan sosok aktivis di Indonesia. Tak hanya dihormati oleh para aktivis dan LSM di Indonesia, Munir bahkan dikenal hingga dunia internasional. Munir mendirikan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) pada 16 April 1996 serta menjadi Koordinator Badan Pekerja di LSMS tersebut.

Munir pun ikut mendirikan Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia dan menjabat sebagai Direktur Eksekutif. Atas perjuangannya, Munir memperoleh penghargaan The Right Livelihood Award di Swedia pada 2000. Sebuah penghargaan di bidang kemajuan HAM.

Abdul Hakim Garuda Nusantara

Pengabdiannya di bidang advokasi dan hak asasi manusia menjadikannya terpilih menjadi ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2002 hingga 2007). Lahir di Pekalongan, 12 Desember 1945. Masa pendidikan SD, SMP, dan SMA dilaluinya di daerah kelahirannya. Lalu pada 1978, beliau masuk ke perguruan tinggi UI dan menyelesaikan pendidikan hukumnya di Universitas Indonesia.

Sejak menjadi mahasiswa, Abdul Hakim Garuda Nusantara sudah aktif menjadi relawan di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta di divisi Hak Asasi Manusia. Lulus kuliah, ia kembali mengambil spesialisasi Hukum Perdata Internasional di Universitas Washington. Usai menyelesaikan studinya, tokoh HAM Indonesia ini pun kembal ke LBH dan diangkat menjadi Direktur Lembaga.

Loading...
Selanjutnya : Trail Terbesar di Pulau Hinchinbrook
Sebelumnya: Mengetahui Titik Refleksi Kaki untuk Diabetes
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar