Tokoh-tokoh Wayang Kulit


Wayang kulit merupakan kesenian tradisional Jawa yang mengandung nilai hiburan dan filosofi yang tinggi. Pesan-pesannya mendidik masyarakat tentang konsep manusia sebagai makhluk Tuhan. Tokoh-tokoh wayang kulit sangat akrab dengan keseharian kita, terutama masyarakat Jawa. Tokoh-tokoh tersebut mengajarkan kepada kita tidak ada manusia yang mutlak jahat dan mutlak baik. Semua makhluk hidup mengandung kebaikan dan kejahatan. Wayang kulit juga terdapat di beberapa negara Asia seperti Malaysia, Cina, dan lainnya.

Terdapat beberapa versi mengenai sejarah wayang kulit ini. Wayang kulit di Jawa sangat dipengaruhi masuknya pengaruh penyebaran Hindu ke Asia Tenggara. Penyebaran Hindu ini dibawa oleh bangsa India. Pendapat ini dikemukakan oleh sarjana-sarjana Inggris yang menjajah India seperti Pischel, Hidding, Krom,Poensen, Goslings, dan Rassers.

Banyak pelajaran yang bisa diambil jika Anda, terutama generasi muda, mau meluangkan waktu sejenak untuk  menyimaknya. Misalnya,  tentang pembelaan tanah air adalah sesuatu yang mulia, meyakini sesuatu yang benar tidak akan sia-sia, dan sebagainya. Wayang kulit ini juga mengajarkan tentang keharmonisan antara manusia dengan manusia dan alamnya adalah penting untuk menjaga keseimbangan di dunia. Ceritanya memang banyak diambil dari kitab-kitab Hindu.

Bagi penggemar wayang kulit, tentunya akrab dengan cerita Mahabarata dan Ramayana. Tokoh-tokoh pandawa dan kurawa yang selalu mempermasalahkan Negara Astina. Tokoh pandawa seperti Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, Samiaji.  Putra pandawa seperti Gatot Kaca, Abimanju, Antareja, dan Jaka Tawang. Ada juga tokoh kurawa yang licik dan sering membuat kekacauan seperti Durna, Sakuni, Dursasana, dan Karna. Pasukan kurawa sebanyak 100 orang dan dipimpin oleh Suyudana. Sementara wakil rakyat ditokohkan oleh Semar, Astrajingga, Gareng, dan Dawala.

Selain tokoh-tokoh wayang kulit yang disebutkan di atas, masih banyak lagi tokoh dalam cerita wayang kulit. Cerita wayang kulit seringkali tetap ditampilkan dalam acara-acara hajatan di masyarakat. Tema cerita wayang kulit disesuaikan dengan tema hajatan masyarakat tersebut. Jika suatu acara masyarakat ‘nanggap’, wayang bisa berlangsung semalam suntuk. Dengan pergeseran zaman seperti sekarang, banyak cerita wayang kulit yang dimodifikasi disesuaikan dengan tren peristiwa masa kini agar lebih menarik.

Selanjutnya : Manfaat Tomat bagi Kesehatan dan Kecantikan
Sebelumnya: Tokoh-tokoh Perjuangan Nasional DIY
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar