Mengenal Kebudayaan Dalam Sistem Mata Pencaharian Kabupaten Luwu


Unsur Kebudayaan dalam Sistem Mata Pencaharian Kabupaten Luwu

Unsur kebudayaan dalam sistem mata pencaharian Kabupaten Luwu sangat menarik untuk diketahui. Bicara tentang Kabupaten Luwu, sebenarnya kabupaten ini merupakan kabupaten yang baru saja dimekarkan di daerah Sulawesi Selatan.

Pemekaran kabupaten Luwu itu menghasilkan Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur, kota Palopo, dan Kabupaten Luwu itu sendiri.

Secara keseluruhan luas kawasan Luwu kurang lebih 3.000 km persegi. Unsur kebudayaan dalam sistem mata pencaharian kabupaten ini merupakan gabungan dari berbagai budaya di Indonesia, mengingat banyaknya transmigran dari Pulau Jawa, Bali, Lombok yang datang ke tempat ini.

Sejak pemerintahan Orde Lama pada tahun 1960an, kawasan Luwu menjadi salah satu kawasan yang diunggulkan sebagai tujuan transmigrasi.

Selain sebagian transmigran berasal dari pulau Jawa dan sekitarnya, mereka juga berasal dari Sulawesi Selatan sendiri khususnya kaum Bugis.

Penduduk lokal Luwu awalnya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan mengumpulkan hasil hutan berupa rotan dan kayu.

Namun sejak kawasan ini dibuka sebagai tujuan transmigrasi, pemerintah mulai membuka ladang untuk ditanami berbagai tanaman pangan.

Sebagian transmigran itu bercocok tanam baik di sawah maupun di perkebunan seperti kebun kelapa sawit, coklat, jeruk, dan sebagainya.

Sementara itu penduduk asli Luwu banyak yang berkecimpung di usaha perkebunan pribadi yang ditanami durian, rambutan, dan buah-buah lainnya yang berbuah secara musiman.

Dari sisi sistem pertanian, teknologi pertanian, penduduk asli Luwu kalah dibandingkan dengan pendatang dari Jawa. Akibatnya banyak lahan pertanian mereka yang dibeli oleh pendatang.

Interaksi dengan pendatang itu juga membuat penduduk asli Luwu mulai belajar teknik pertanian yang lebih maju, namun hasilnya tidak sebagus pendatang mengingat para penduduk asli belum bisa memfokuskan perhatian 100 persen di pertanian karena mereka masih sering keluar masuk hutan untuk mengumpulkan hasil-hasil hutan.

Selain potensi pertanian dan kehutanan, sebenarnya masih ada bidang mata pencaharian lainnya yang bisa dikembangkan di Luwu, yaitu potensi pertambangan dan perindustrian.

Saat ini Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi terus berupaya mengembangkan potensi daerah Luwu dan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi para investor untuk membangun berbagai sarana dan pra sarana di Kabupaten Luwu.

Maka apabila kita menilik unsur kebudayaan dalam sistem mata pencaharian kabupaten luwu, bagi penduduk lokal unsur kebudayaan ini terlihat dari tradisi mereka keluar masuk hutan mengumpulkan hasil hutan.

Meski demikian tradisi ini mulai bergeser dan berasimilasi dengan kebudayaan lain yang dibawa pendatang.

Selanjutnya : Persyaratan Seleksi di Perusahaan
Sebelumnya: 3N, Kisah Penemuan Goa Garam Terbesar Di Dunia
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar