Tradisi dan Upacara Pernikahan Suku Mentawai


Tidak beda jauh dengan daerah lain di Indonesia, suku Mentawai di Sumatera Barat juga punya tradisi yang tidak kalah unik, terutama dalam hal yang berhubungan dengan perkawinan. Semua proses upacara pernikahan suku Mentawai ini biasanya diadakan di rumah adat yang disebut dengan Uma. Sedangkan orang yang menikahkan atau walinya adalah kepala suku.
Acara pernikahan tersebut dilangsungkan selama lima hari berturut-turut, dimulai dengan acara meminang. Keluarga dari pihak laki-laki mendatangi rumah perempuan. Tapi yang datang bukan calon suami melainkan kakaknya. Jika kakaknya tersebut adalah perempuan dia akan membawa kain sebagai tanda pinangan.

Setelah acara pinangan ini selesai, baik calon pengantin perempuan dan laki-laki dianggap sudah punya semacam ‘ikatan’ sehingga tidak boleh melakukan hal-hal yang menjadi larangan, seperti berselingkuh. Jika ada salah satu pihak yang melanggar maka harus membayar denda yang bisa berwujud binatang ternak, ladang, hasil panen, dan sebagainya.

Berikutnya adalah pelaksanaan pernikahan yang dilakukan di masjid atau gereja sesuai dengan kepercayaan dan agama yang dianut oleh pasangan. Beberapa hari setelah itu diadakan acara lain yang disebut dengan punen. Apabila acara ini selesai pasangan boleh tinggal dalam satu kamar dan melakukan hubungan badan.

Sekitar satu atau dua bulan sesudahnya, ada acara pernikahan lain yang namanya pembelian. Di acara ini keluarga perempuan datang ke rumah keluarga laki-laki dengan tujuan membicarakan proses pembelian. Namun dalam acara ini keluarga perempuan tidak bisa bicara secara langsung dengan keluarga laki-laki tetap harus melalui seorang wali.

Setelah dicapai suatu kesepakatan, pengantin perempuan bisa ikut datang dan mengambil semua barang yang sudah disepakati sebelumnya. Dalam acara inilah orangtua kedua belah pihak dapat memberi nasihat pada pasangan baru tersebut.

Dari sini kemudian dilanjutkan dengan upacara lain yang dinamakan Pengurei. Dalam acara ini pasangan tersebut memakai pakaian adat dan diselenggarakan pesta secara besar-besaran. Pihak yang mengadakan pesta ini adalah keluarga perempuan.

Setelah pesta usai, upacara pernikahan suku Mentawai ini dilanjutkan dengan Parurut Rungu yang diadakan dua atau tiga hari berikutnya. Dalam acara tersebut keluarga laki-laki datang ke rumah keluarga perempuan untuk mengembalikan pakaian yang dipakai dalam acara Pengurei. Apabila acara ini selesai, pasangan pengantin pulang dan tinggal ke rumah pihak laki-laki.

Selanjutnya : Pengubahan Lemak Oleh Enzim Pada Sistem Pencernaan
Sebelumnya: Mengenal Hotel Dekat Gelora Bung Karno
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar